Monday, April 28, 2014

Keuntungan Berinvestasi di Reksa Dana



  • Akses ke instrumen investasi yang mahal
    Contoh: untuk membeli saham, minimal jumlah pembelian harus 1 lot (500 lembar). Saham
    ASII (Astra International Tbk) saat ini harganya Rp 62 ribu per lembar, jadi sekali beli kita perlu uang sejumlah 500 x 62.000 = Rp 31 juta. Belum lagi kalau kita mau berinvestasi di obligasi, tentunya perlu jumlah uang yang lebih besar lagi. Nah, melalui RD, kita bisa berinvestasi pada instrumen tersebut dengan jumlah dana yang lebih kecil. Beberapa produk RD bahkan ada yang menawarkan batas minimal investasi Rp 100.000.
  • Diversifikasi
    Untuk suatu produk RD, MI yang mengelola RD tersebut akan menggunakan uang investor untuk membeli beberapa saham/obligasi/instrumen keuangan lainnya. Investor bisa mengetahui instrumen keuangan apa saja yang dipakai MI dengan membaca laporan tahunan yang diterbitkan MI tersebut. Dan biasanya, investor juga bisa mengetahui "top 3" instrumen melalui monthly fund fact sheet. Don't put all your eggs in one basket, right?
  • Likuid
    Selama bursa efek tidak libur, investor bisa melakukan transaksi, baik membeli maupun menjual UP, tidak seperti deposito berjangka.
  • High return
    Selama negara (ekonomi makro) tidak mengalami krisis finansial, profit yang bisa diberikan oleh RD (pada jangka waktu tertentu) pasti lebih tinggi dari nilai inflasi. Selain itu, dana investor juga dikelola oleh MI yang profesional, yang punya target kinerja di atas standar tertentu misalnya IHSG atau indeks sektoral.
Jenis-Jenis Reksa Dana
Berdasarkan portofolio investasinya, RD bisa dikategorikan 4 macam, terurut dari return (dan risiko) terendah ke tertinggi:
  • Reksa Dana Pasar Uang
    Alokasi investasinya pada efek utang jangka pendek (kurang dari 1 tahun), seperti surat utang jangka pendek dan deposito. Tingkat return-nya paling rendah, sedikit di atas bunga deposito.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap
    Minimal 80% dananya dialokasikan ke efek utang jangka panjang, seperti obligasi. Cocok untuk investasi jangka menengah (± 5 tahun), dengan return bisa mencapai 10% per tahun.
  • Reksa Dana Campuran
    Alokasinya dananya biasanya diseimbangkan antara efek utang dan saham. Cocok untuk investasi jangka menengah sampai panjang (5-10 tahun), dengan return bisa mencapai 15% per tahun.
  • Reksa Dana Saham
    Minimal 80% dananya dialokasikan ke saham. Cocok untuk investasi jangka panjang (lebih dari 10 tahun), dengan return bisa mencapai 20% per tahun.
Nilai Aktiva Bersih
Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) adalah nilai total kekayaan bersih dari suatu reksa dana. Misalnya, ada sebuah fund manager melakukan penawaran umum perdana untuk produk reksa dana yang baru, sebut saja reksa dana XYZ. Reksa dana XYZ ini akan ditawarkan ke investor seharga Rp 1000 / unit (UP). Jika ternyata selama penawaran umum perdana, jumlah UP yang terjual adalah sebanyak 1 juta unit, maka dana yang berhasil terkumpul adalah sebesar Rp 1 miliar, ini adalah NAB atau NAV saat itu. Lalu, setelah uang sebesar Rp 1 miliar itu akan dibelikan efek oleh MI, ternyata 1 tahun kemudian nilainya bertambah menjadi Rp 2 miliar karena saham yang ada di portofolio reksa dana XYZ naik drastis semua. Akibatnya, NAB/UP reksa dana XYZ sekarang juga naik menjadi Rp 2000 / UP. Jika pada penawaran umum perdana, saya membeli unit reksa dana XYZ sebesar Rp 100.000, berarti saya punya 100 UP. Artinya, setahun kemudian, uang saya sebenarnya menjadi 100 x Rp 2000 = Rp 200.000. Profit investasi saya adalah sebesar 100 % / tahun (belum dipotong biaya).
Tips Memilih Reksa Dana
  • Sesuaikan dengan profil risiko Anda
    Setiap orang pasti memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Ada yang konservatif, moderat, dan agresif. Investor yang profil risikonya konservatif, jika tahu NAB nya turun 5 %, pasti langsung berkeringat dingin dan susah tidur. Sebaliknya, investor agresif masih tenang-tenang saja meskipun NAB nya turun 10 %, misalkan karena fluktuasi harga saham. Di beberapa bank yang menjual unit RD, calon investor biasanya akan diberi sebuah assessment form yang akan menilai profil risiko si calon investor. Profil risiko ini menentukan jenis RD mana yang sebaiknya dipilih, apakah pasar uang, pendapatan tetap, campuran atau saham.
  • Reputasi Manajer Investasi
    Berinvestasi di RD itu ibarat kita menitipkan uang kita ke seseorang, lalu kita biarkan orang itu mengelola uang kita. Untuk itu, investor biasanya lebih merasa nyaman kalau "menitipkan" uangnya ke orang-orang yang reputasinya diakui baik oleh dunia finansial nasional, bahkan internasional. Nama-nama besar perusahaan pengelola reksa dana, baik yang berkelas internasional (BNP Paribas, Schroders) maupun kelas nasional (Panin, Danareksa), tentunya memberikan daya tarik bagi calon investor.
  • Kinerja Reksa Dana
    Cara termudah untuk memilih RD adalah dengan melihat tabel perbandingan return yang dihasilkan berbagai produk RD. Kita bisa memantaunya di harian
    Kontan atau Bisnis Indonesia atau situs Infovesta, yang mana datanya diupdate tiap hari. Pilih saja mana yang memberikan profit "paling baik" untuk 1-3 tahun terakhir. Meskipun demikan, kinerja masa lalu tidak selalu dapat dijadikan patokan bagi kinerja masa depan. Investor perlu mempelajar prospektus reksa dana, untuk mengetahui detail pengelolaan dana investasi, termasuk siapa saja manajer investasinya dan apa sasaran utama dari RD tersebut, misalnya untuk RD Saham apakah akan fokus ke saham bluechip, second liner, sektoral, syariah, gorengan, dll. Manajer investasi yang bonafit pasti mempublikasikan prospektus ini, sehingga investor bisa mendapatkannya dengan mudah. Selain prospektus, investor juga sebaiknya membaca monthly factsheet dan laporan tahunan untuk menilai kinerja suatu reksa dana.
Bagaimana Memulai Investasi RD?
  • Anda bisa datang ke bank yang menyediakan jasa investasi Reksa Dana, seperti Bank Commonwealth atau Bank Mandiri, atau bisa juga datang langsung ke kantor manajer investasinya, seperti Panin Sekuritas. Nanti Anda akan mendapatkan semacam rekening investasi, isinya: Anda punya RD xxx sejumlah yyy unit, dst. Jumlah minimum investasi beragam, tergantung perusahaan manajer investasi, mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 1 juta.
  • Perhatikan biaya yang dikenakan untuk tiap transaksi. Ada RD yang dikenai biaya saat subscription (beli) saja, ada yang saat redemption (jual) saja, ada yang dua-duanya. Untuk produk RD yang sama, terkadang biaya transaksi melalui bank yang satu lebih murah daripada bank lainnya.
  • Pilih yang praktis. Beberapa investor cenderung memilih bank yang memberikan layanan e-banking untuk transaksi reksa dana. Investor lainnya mungkin lebih memilih bank yang dekat dengan kantor tempat ia bekerja.
·         Perbandingan Produk Investasi Seturut Perjalanan Waktu
Oleh: Yustinus Eko Soelistio, MM., CFP®
30 November 2011

Yustinus Eko SoelistioSekarang ini banyak sekali produk investasi yang ditawarkan.  Beberapa menawarkan bunga yang sangat menggiurkan tapi disertai dengan resiko yang besar.  Beberapa lagi menawarkan bunga yang kecil tapi didukung dengan tingkat return yang stabil dan jaminan.  Sekarang pertanyaan bagi kita tentu saja, “Produk mana yang cocok untuk saya?”.  Tidak semua produk yang memberikan bunga tinggi bisa cocok untuk semua orang, dan demikian juga sebaliknya produk yang memberikan bunga yang stabil belum tentu cocok untuk kita semua.  Jadi berikut ini adalah tabel perbandingan secara garis besar imbal hasil beberapa produk investasi umum seperti deposito, reksadana, emas, dan ORI.  Dengan informasi ini kita bisa lebih jelas melihat karakteristik masing-masing produk dan bisa menentukan pilihan dengan lebih bijak. Berikut adalah tabel range pertumbuhan per-tahun dilihat dari jangka waktu:
Produk/Waktu
Deposito (Rp)
Emas (USD)
Reksadana
ORI
1 - 3 tahun
5% s/d 6%
27% s/d 34%
4% s/d 100%
7% s/d 12%
3 - 5 tahun
5% s/d 10%
14% s/d 34%
-50% s/d 100%
7% s/d 12%
5 - 10 tahun
4% s/d 10%
5% s/d 34%
-50% s/d 100%
7% s/d 12%
10 - 20 tahun
4% s/d 40%
-42% s/d 34%
-
-
Tabel diatas adalah kisaran pertumbuhan (atau kerugian) investasi. Perhitungannya hanyalah perhitungan kasar tapi cukup bisa menggambarkan bagaimana perbandingan antara return vs resiko masing-masing produk. Kalau kita lihat perbandingannya, maka produk yang memberikan hasil paling stabil adalah ORI dengan kisaran return antara 7% sampai 12 % per-tahun. Kemudian disusul dengan deposito dan emas. Deposito pernah memberikan hasil yang luar biasa yaitu sekitar 40% per-tahun pada waktu krisis sekitar tahun 1997 - 1999. Tapi pada saat ekonomi stabil, deposito memberikan bunga sekitar 4% sampai 10% per-tahun. Emas secara rata-rata memberikan hasil yang lumayan sekitar 14% sampai 34% per tahun. Tapi untuk jangka panjang antara 10 - 20 tahun, emas pernah mengalami penurunan sampai sekitar -42% per-tahun. Ini terjadi sekitar tahun 1980 - 2000. Pada tahun 1980an emas pernah menyentuh USD 800, dan turun sampai akhirnya sekitar tahun 2006 bisa kembali lagi di USD 800. Hasil investasi emas juga sangat dipengaruhi oleh nilai mata uang rupiah. Bila emas naik dan rupiah menguat, maka bisa jadi nilai emas di Indonesia tidak berubah atau bahkan mungkin berkurang. Sebaliknya bila emas turun dan rupiah melemah, bisa jadi malah nilai emas di Indonesia meningkat. Jadi pertumbuhan investasi emas lebih terpengaruh oleh kondisi ekonomi dunia dibanding dengan deposito dan ORI.
Untuk investasi di reksadana sendiri sangat bervariasi antara (rugi) 50% sampai (untung) 100% per-tahun. Tergantung dari jenis reksadana yang diambil, variasi bunga juga berbeda. Untuk reksadana pasar uang biasanya tidak jauh berbeda dengan deposito. Sedangkan untuk reksadana saham bisa sangat bervariasi. Reksadana saham bisa menghasilkan return yang sangat tinggi meninggalkan emas, deposito dan ORI. Reksadana jenis ini pernah mencatatkan return lebih dari 100% pada saat pemulihan dari krisis ekonomi tahun 2008. Tapi bila dilihat secara jangka panjang maka secara rata-rata reksadana saham memberikan hasil antara 20% sampai 30% per-tahunnya.
Nah, jadi produk mana yang cocok untuk masing-masing kita? Jawabannya sangat tergantung dari profil dan tujuan kita. Kalau kita mencari stabilitas dan keamanan mungkin lebih cocok bila mengambil ORI dan deposito. Kalau yang dituju adalah pertumbuhan yang tinggi mungkin sebaiknya mengambil emas dan reksadana saham/pendapatan tetap. Tapi apapun pilihan kita, sebaiknya kita selalu ingat bahwa tidak ada satupun yang kekal di dunia ini. Investasi apapun yang kita ambil, harus selalu kita monitor dan evaluasi apakah masih sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak. Portofolio yang baik adalah portofolio yang bisa bertahan di saat sulit dan tumbuh di saat maju. Pesan untuk "Don't put all your eggs in one basket" hampir selalu berlaku untuk semua portofolio. Karena itu investasilah dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan.
Selamat berinvestasi.


Yustinus Eko Soelistio, MM., CFP
Staf Perencana Keuangan

No comments:

Post a Comment